Tim Lindsey adalah guru besar, ahli hukum Asia, sekaligus sebagai “Director of the Asian Law Centre” pada Fakultas Hukum Universitas Melbourne, Australia. Dia juga adalah “Foundation Director of the Centre for Islamic Law and Society”, “a Founding Editor of the Australian Journal of Asian Law”, penulis banyak buku , peneliti, pengacara dan pemilik segudang pengalaman lainnya di bidang akademis, hukum dan kemasyarakatan.
Orangnya masih muda, gaul, kocak, dan sudah pasti pinter. Bahasa Indonesianya sangat fasikh, bahkan bahasa-bahasa prokempun ia kuasai. Bagi saya tidak aneh kalau orang seperti Pak Tim –begitulah panggilan akrab saya kepadanya- sangat menguasai bahasa Indonesia, sebab selain dia ahli di bidang ke-indonesia-an, isterinyapun orang Indonesia tulen.
Teh Julia, lengkapnya Julia Suryakusuma, orang Bandung, adalah gadis yang beruntung dipersunting Pak Tim. Atau mungkin, Pak Timlah yang beruntung beristerikan Teh Julia, sebab Teh Julia orangnya juga gaul, lincah, cantik, nyentrik, pinter dan pegiat jender. Bahkan Teh Julia adalah penulis handal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tulisannya banyak dimuat pada media massa seperti Majalah Tempo dan The Jakarta Pos. Ia juga banyak menulis buku, seperti suaminya. Salah satu buku yang ditulisnya, dan dihadiahkannya kepada saya melalui Pak Tim, adalah “Jihad Julia”, buku kocak penuh makna.
Jadi, nampaknya hubungan Pak Tim dan Teh Julia adalah hubungan simbiosis mutualistis, saling menguntungkan. Memang, sayapun yakin seperti itu. Bahkan lebih dari itu, dari aktifitas dan tulisan-tulisan pasangan suami-isteri yang berbeda kebangsaan ini, banyak orang dan pihak yang diuntungkan pula. Termasuk saya dan juga peradilan agama.