“Golden Gate” Bergeser 15 Sentimeter sejak Februari

JAKARTA- Sebuah pesan masuk ke telepon seluler Rita Widyasari sesaat sebelum mobil yang ditumpanginya masuk ke Gedung Jakarta Convention Center untuk menghadiri pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Siti Ruby Aliya Rajasa (Aliya).
”Jembatan Kukar (Kutai Kartanegara, Red) Ambruk,” bunyi pesan itu sekitar pukul 15.30 WIB. “Ya Allah, jembatanku. . .” Rita kaget membaca kabar itu. Dia batal menghadiri resepsi pernikahan Ibas. Mobil Rita langsung meluncur ke bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.
“Saya enggak jadi ke resepsi. Langsung ke airport,” kata Rita kepada Kaltim Post yang menghubunginya, kemarin (26/11). Ia menyebut kejadian ini sebagai musibah namun belum bisa memastikan penyebab pasti ambruknya jembatan yang mirip dengan “Golden Gate” San Francisco, Amerika Serikat ini.
Pukul 21.00 Wita, Rita bersama Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto dan Menko Kesra Agung Laksono, langsung bertolak dari Jakarta menuju Balikpapan. “Saya satu pesawat dengan Pak Menteri,” kata Rita sebelum terbang.
Sementara di lokasi kejadian, rombongan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak tiba di Jembatan Kartanegara ketika magrib baru saja datang. Seakan tidak percaya melihat ambruknya jembatan, Faroek tertunduk lesu tak jauh dari jembatan megah itu.
“Akan diselidiki kenapa sampai runtuh. Sejauh ini belum diketahui penyebabnya,” kata Gubernur kepada sejumlah wartawan, malam tadi. Dia meminta, penanganan korban dilakukan secara terpadu dan optimal. Gubernur mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menugaskan Menkokesra Agung Laksono dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meninjau lokasi.
Musibah memang baru menimpa Kukar. Jembatan Kartanegara di Tenggarong mendadak ambruk, Sabtu sekira pukul 16.30 Wita. Hampir seluruh bentangan jembatan kebanggaan warga Kukar, bahkan Kaltim, itu jatuh ke sungai. Otomatis, arus lalu lintas dari Tenggarong menuju Samarinda dan Balikpapan tinggal mengandalkan jalur Loa Kulu- Loa Jalan.
Belum diketahui secara pasti jumlah korban atas kejadian tersebut. Termasuk berapa banyak kendaraan yang terperangkap dan ikut ambruk bersama bentangan jembatan. Yang jelas, sampai berita ini dibuat petugas terus aktif melakukan pencarian sekaligus mengevakuasi korban dari tempat kejadian perkara (TKP).
Namun,laporan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebutkan jika kecelakaan tersebut menewaskan 13 orang dan 17 luka-luka (baca juga: SBY Perintahkan Menteri ke Tenggarong, Red).
Berbagai keterangan yang dihimpun Kaltim Post di TKP menyebutkan, saat kejadian banyak mobil dan sepeda motor tengah melintas di atas jembatan.
Ambruknya jembatan tersebut sungguh di luar dugaan. Sebab, dari sisi usia, belum terbilang uzur. Jembatan di Kota Raja tersebut mulai dikerjakan tahun 1995 dan rampung tahun 2001. Beragam dugaan pun bermunculan. Ada yang menduga, ambruknya jembatan tersebut akibat kesalahan teknis pekerjaan. Pasalnya, beberapa pekan ini memang sedang dilakukan perbaikan pemeliharaan jembatan.
Cerita lain menyebutkan, pekerja di jembatan itu sempat menginstruksikan pengendara agar pelan-pelan melintas. Bahkan sempat diberlakukan satu arah. Kondisi ini ditengarai membuat beban jembatan bertambah, karena terjadi penumpukan kendaraan.
Anggota DPRD Kukar nonaktif, Saiful Aduar kepada Kaltim Post mengaku amat terkejut dengan ambruknya jembatan tersebut. Pasalnya, dia baru saja melintas di jembatan itu menuju Samarinda. “Ngeri, saya baru saja melintas dan ambruk,” jelas Saiful.
Komandan Kodim 0906/Tenggarong LetkolInf DendiSuryadi mengatakan, berdasarkan hasil rapat yang dipimpin langsung Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, tim SAR gabungan yang terdiri dari anggota TNI dan Polri, serta Kesbang Linmas akan terus melakukan pencarian korban hingga pukul 00.00 Wita dini hari. Namun, pencarian hanya di permukaan perairan.
Pencarian dilanjutkan pada Minggu (27/11) sekitar pukul 06.00 Wita, dengan melakukan penyelaman di areal rubuhnya jembatan. “Saat ini, kami sudah membuka posko terpadu di Jalan Wolter Manginsidi Tenggarong, persis di dekat jembatan yang runtuh. Bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya, diharapkan segera melapor ke posko tersebut,” terang Dendi, yang juga ketua Tim Evakuasi Korban Jembatan Kartanegara.
Data tim hingga pukul 21.00 Wita agaknya berbeda dengan laporan Gubernur ke SBY. Di mana, versi tim, korban luka mencapai 23 orang. Sementara korban jiwa empat orang. Korban yang berada di Tenggarong dilarikan ke RSUD AM Parikesit. Sementara korban yang berada di Tenggarong Seberang, dilarikan ke Puskesmas Teluk Dalam. Seluruh akses transportasi, baik darat maupun air akan di tutup setidaknya selama dua hari.
“Saya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati lokasi jembatan yang runtuh, karena ada kemungkinan sisa bangunan jembatan yang masih berdiri akan ikut runtuh. Jangan sampai hanya karena ingin melihat, justru menjadi korban baru, “ terang Dendi.
SUDAH BERGESER
Sebelum ambruk, Jembatan Kartanegara dikabarkan bergeser 15 sentimeter. Kabar ini juga disampaikan Rita kepada Kaltim Post, Februari 2011 lalu, tiga bulan sebelum acara Pentas Tani dan Nelayan Indonesia (Penas) KTNA dimulai.
Saat itu, Rita menerima laporan dari seorang petugas pemasang lampu jembatan yang mengatakan bagian puncak dua tiang utama telah bergeser dari posisi semula. Rita sempat khawatir jembatan ambruk dan tak kuat menampung ribuan peserta Penas yang datang ke Kukar.
"Karena nanti setiap hari volume kendaraan lewat di jembatan bertambah drastis. Makanya saya minta Dinas PU segera memeriksa dan melakukan perbaikan," ujar Rita kala itu.
Setelah dilakukan pengecekan, PU mengakui jembatan bergeser sekitar 15 sentimeter. Tapi pergeseran itu diyakini masih dalam batas toleransi dan tidak berdampak buruk. PU menganggarkan Rp 3 miliar pada tahun 2011 untuk biaya pemeliharaan jembatan.
"Jembatan itu tidak akan ambruk jadi tidak perlu khawatir. Kita melakukan tindakan pemeliharaan seperti pengencangan baut-baut yang longgar, mengganti yang rusak dan memperbaiki hanger (penggantungan kabel, Red) jembatan," kata Didi kala itu.
Sementara, Divisi Riset dan Pendidikan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Abdullah Naim mengaku mendapat kabar dari warga, Oktober lalu, Jembatan Kartanegara disenggol ponton batu bara. “Kenapa diperbaiki? Apa ditabrak atau bagaimana? Kami harap polisi menyelidiki,” pintanya.
TIM INVESTIGASI
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kaltim Husinsyah mengatakan, jembatan ini dibangun ketika dia masih menjabat kepala Bidang Bina Marga, Dinas PU Kaltim. Pemimpin proyek jembatan yang dibangun kontraktor PT Hutama Karya ini adalah Baharuddin (almarhum). Dia pernah menjadi kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kukar.
“APBN dan APBD provinsi hanya membantu pendanaannya. Mulai proses pelelangan hingga pengerjaannya, itu di Kukar,” terang dia, ketika ditemui, kemarin.
Bagaimana dugaan runtuhnya jembatan disebabkan adanya perbaikan? Husinsyah belum memastikan hal tersebut. “Saya juga dengar begitu informasinya. Pak Gubernur sudah meminta diinvestigasi,” katanya.
Tim investigasi dibentuk sesuai arahan dari Menteri PU Djoko Kirmanto yang malam tadi menuju Tenggarong. “Karena ini jembatan yang dibangun dengan biaya nasional, kemungkinan tim dari pusat yang dibentuk,” tambah dia.
MACET LANGSUNG TERASA
Ambruknya Jembatan Kartanegara membuat wilayah Kukar serasa “terisolir”. Ini karena akses dari Tenggarong ke Samarinda, terus ke Balikpapan, praktis hanya bisa lewat Loa Kulu. Suasana akhir pekan, membuat jalur transportasi ini terbilang aktif. Belum lagi dengan rencana pernikahan anak Wakil Bupati Kukar Ghufron Yusuf hari ini di Samarinda.
Sehingga kemacetan di beberapa titik. Pantauan media ini, sesaat setelah jembatan ambruk pada Sabtu sore, kemacetan sudah terasa di Jalan Ciptomangun Kusumo Samarinda Seberang, tepatnya di simpang tiga menuju Jalan Gerbang Dayaku.
Pengendara mesti bersabar, sekitar 5- 10 menit di ruas jalan ini. Selain badan jalan yang sempit, kendaraan yang lalu-lalang pun enggan mengalah. Akibatnya, kendaraan yang mengular mencapai 100 meter lebih.
Suharja Ratna, warga Jalan Gerbang Dayaku, Loa Janan Ilir, mengatakan, kepadatan kendaraan baru kali ini terjadi. Seandainya pun macet tidak sepanjang ini. “Saya dengar kabar jembatan di Tenggarong putus, makanya di sini macet,” ucap ibu 54 tahun ini.
Bergeser di ke ruas Jalan Raya Loa Duri. Di sini, tidak terlihat kepadatan kendaraan. Kemudian di Jalan Ulat Naga Kecamatan Loa Janan, di kawasan ini memang terlihat macet, namun tidak begitu parah. Kendaraan hanya mampu memacu kendaraan 10-20 kilometer. Kemacetan jalan hanya terjadi dari kendaraan arah Samarinda menuju Tenggarong. Begitu pun di kawasan Jalan Desa Jembayan, di sini tidak terlihat kemacetan.
Kemacetan kendaraan mulai terasa ketika memasuki Jalan A Yani Desa Loa Kulu. Dari sini, kepadatan kendaraan terasa hingga ke Jembatan Pelai. Panjang kemacetan sekitar 5 kilometer. Dan, didominasi dari kendaraan arah Tenggarong menuju Samarinda.
Kemudian di Jalan FL Tombing Desa Rempaga, di sini juga mengalami kemacetan hanya tidak begitu panjang. Parahnya, sepanjang Desa Loa Janan hingga Desa Rempanga, tidak terlihat satu petugas kepolisian dari sektor Kukar yang berjaga untuk mengatur arus lalu lintas.
Akses kendaraan dari arah Loa Kulu menuju Tenggarong, yang biasa masuk melalui Jalan Wolter Monginsidi, akhirnya dialihkan ke Jalan Pahlawan. “Akses memang dialihkan, sebab masih ada olah TKP di sekitar jembatan,” ucap salah seorang petugas Satlantas Polresta Kukar.
ADA PERBAIKAN
Sejumlah saksi juga membenarkan, sejak sepekan ini memang ada perbaikan di jembatan. Sore sebelum petaka itu, tujuh pekerja mengenakan rompi oranye. Peralatan kerja diangkut menggunakan Mitsubishi L300.
Rina Riandika, warga Desa Jongkang, Kecamatan Tenggarong Seberang yang melintasi jembatan, lima menit sebelum kejadian menuturkan, dia melihat pekerja di pinggir jembatan. Ada papan peringatan bertulis, “Maaf, perjalanan Anda terganggu. Ada perbaikan jembatan.”
Aktivitas perbaikan itu, menurut warga sekitar, seperti membuka baut dan mengganti lampu jembatan berjulukan “Golden Gate” Kalimantan ini.
Sedangkan dari laporan Tim SAR di lokasi kejadian, evakuasi korban belum bisa dilakukan mengingat hari sudah gelap. “Besok pagi baru diadakan penyisiran. Mungkin menggunakan penyelam. Yang jelas, untuk mengevakuasi mobil dan korban yang terjebak di rangka jembatan, itu evakuasi yang luar biasa sulitnya,” tutur seorang anggota PMI.
sumber: http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=118618












