Penyelam Tradisional Lainnya Menyebut Ramli Kesurupan. Evakuasi Mobil Gagal Dilakukan
MERINTIH KESAKITAN: Ramli di atas tandu dan merintih kesakitan. Penyelam tradisional ini mengalami dekompresi ketika melakukan evakuasi kemarin.
TENGGARONG - Proses evakuasi tiga mobil di dasar Sungai Mahakam di sekitar reruntuhan Jembatan Mahakam II yang sedianya dilakukan kemarin (12/12), terpaksa harus ditunda. Penyebabnya, salah seorang penyelam tradisional yang dikerahkan untuk evakuasi bernama Ramli alias Yen (36), mengalami dekompresi saat berada di dalam air. Ramli sempat tidak sadarkan diri dan ketika siuman ia merintih-rintih kesakitan.
Dokter Nizam, seorang dokter yang bersiaga di Posko Evakuasi, mengatakan Ramli mengalami dekompresi lalu kejang-kejang kemudian pingsan. Ramli berada sekitar 30 menit di dalam air, berbekal kaca mata selam dan selang udara yang terhubung dengan kompresor di perahu. “Kawannya yang di atas tahu ada yang tidak beres dengan Ramli di bawah. Kemudian temannya menyelamatkan dengan menarik selang udara untuk menaikkan Ramli,” tutur Nizam kemarin.
Dekompresi bisa menyebabkan seoran penyelam kejang, stroke bahkan lumpuh. Untuk mengatasi dekompresi ini, Ramli dikirim ke RS Pertamina Balikpapan (RSPB) untuk menjalani terapi hiperbarik dalam ruangan khusus bernama recompression chamber. Di Kaltim hanya RSPB yang memiliki fasilitas hiperbarik.
Dijelaskan Nizam, udara yang kita hirup sehari-hari mengandung oksigen dan nitrogen. Pada saat seseorang menyelam dan mengalami tekanan, maka kadar nitrogen akan naik. Dekompresi adalah peristiwa dimana kadar nitrogen di dalam tubuh lebih banyak daripada oksigen. Hal ini bisa terjadi karena seorang penyelam terlalu lama berada di bawah air atau terlalu cepat naik ke permukaan. Ketika nitrogen terakumulasi dalam tubuh, akan timbul gelembung udara atau buih.
“Buih ini akan menyumbat aliran darah maupun sistem syaraf tubuh manusia. Akibatnya bisa sangat fatal, mirip dengan stroke. Saat ini Ramli sudah siuman, tapi masih kesakitan. Ia harus diterapi hiperbarik di RSPB,” tutur Nizam. Sebelum dibawa ke Balikpapan, Ramli lebih dulu dibawa ke RSUD Parikesit Tenggarong.
Kemarin adalah hari ketiga Pemkab Kukar mengerahkan enam penyelam tradisional untuk membantu evakuasi delapan objek di dasar sungai yang diduga sebagai mobil.
Para penyelam ini akan bekerja hingga 25 Desember mendatang. Saat menyelam, para penyelam tradisional hanya memakai alat bantu sederhana seperti kacamata selam dan selang oksigen yang terhubung dengan kompresor. Mereka tak memakai pakaian selam khusus.
Cerita berbeda diutarakan oleh Kaspul, salah seorang rekan penyelam Ramli. Ia katakan Ramli naik ke permukaan dalam keadaan baik-baik saja. Beristirahat sejenak di perahu setelah menyelam 40 menit, tiba-tiba kawannya itu kesurupan dan kejang-kejang.
“Dia sudah ada di atas perahu dan istirahat sebentar. Tiba-tiba kesurupan,” kata Kaspul.
Melihat rekannya kejang-kejang dan diduga kesurupan, kawan-kawannya langsung membawa Ramli ke daratan. Dokter yang ada di darat langsung memberikan pertolongan dan membawa Ramli ke RSUD AM Parikesit.
Kaspul mengaku bahwa baru kali ini ada rekannya mengalami kesurupan seperti ini setelah sekian lama berpengalaman menyelami Sungai Mahakam.
Menurut Humas RSUD AM Parikesit, dr Reny, korban datang menggunakan ambulance. Di RS, Ramli langsung diberikan oksigen, infus dan perawatan medis.
“Korban dirawat oleh dokter spesialis sarat dr Ibnu dan dokter specialis penyakit dalam dr Martina Yulianti. Namun karena keterbatasan peralatan maka langsung dirujuk ke RSPB Pukul 11.20.
sumber: www.korankaltim.co.id












